Selamat Datang...

...tolong bangunkan aku esok pagi...

Wednesday, May 02, 2012

Hi5teria (2012): Sekedar Histeria Omnibus


Belakangan kata Film Omnibus menjadi trend di industri film Indonesia. Omnibus merujuk pada kumpulan film pendek yang dirangkai dalam satu kesatuan film atau tema.  Paling tidak ada 3 film omnibus bergenre horor yang pernah dirilis di Indonesia. Pertama ada Faces of Fear (Takut) yang rilis pada 2008. Takut berisi 6 film pendek bergenre horor yang kemudian melambungkan Dara (The Mo Brothers).  Takut di besut oleh sutradara-sutradara yang sudah memiliki jam terbang tinggi di dunia film. Sebut saja Riri Riza dan Rako Prijanto.

Omnibus kedua ada Fisfic 6 vol. 1 yang rilis 2011. Omnibus ini lahir lewat kompetisi Fisfic yang digagas Joko Anwar dan Ekky Imanjaya. Peminatnya membludak, tetapi para penggagas harus memilih 25 naskah cerita untuk di-workshop-kan dan kemudian memilih 5 naskah terbaik untuk di produksi. Belakangan, produksi filmnya bertambah satu menjadi 6. Keenam film pendek horor ini kemudian tayang pada event tahunan INAFF pada November 2011. 

Omnibus horor terbaru lahir lewat Hi5teria yang rilis 2012. Berisi 5 film pendek dari, katakanlah, sutradara muda berbakat. Berbeda dengan omnibus pendahulunya yang hanya diputar pada INAFF, Hi5teria sempat tayang di jaringan bioskop regular. Baiklah, mari bedah satu-satu segmentasi filmnya.

Di film kesatu ada PASAR SETAN yang dibesut Adriyanto Dewo. Kisah tentang adanya keramaian pasar demit di tengah gunung memang menjadi mitos para pendaki gunung Indonesia. Mengambil latar Gunung Lawu yang memang terkenal dengan mistisnya, Adriyanto menggambarkan bagaimana Sari (Tara Basro) dan Jaka (Egy Fadly) terpisah dan saling mencari. Sampai akhirnya Sari bertemu Zul (Dion Wiyoko). Pertemuan yang mengantar Zul menjadi bagian dari mitos pasar setan. Bagi orang awam yang tak pernah bersentuhan dengan mitos alam bebas, Adriyanto Dewo cukup baik bertutur tentang legenda Pasar Setan dan hilangnya para pendaki yang tak pernah ditemukan. Garapan Pasar Setan di Hi5teria bahkan menjadi yang terbaik di omnibus ini. Untuk sebuah penggambaran mitos di gunung-hutan, Pasar Setan jauh lebih baik daripada Pencarian Terakhir (2008) besutan Affandi Abdul Rahman.

Film kedua masih berkisah soal legenda lokal. WAYANG KOELIT garapan Chairunnisa dan Adi Baskoro berkisah tentang seorang wartawan (?) asing yang dating meliput wayang kulit di sebuah desa. Liputan yang kemudian membawa Nichole (Maya Otos) kepada situasi yang membahayakan dirinya. Sebagai Jawa misalnya, efek mistis yang didapat dari pementasan wayang kulit yang didalangi perempuan sebenarnya cukup terasa. Tapi disain produksi Wayang Koelit terlalu meniru banyak film horor lain, dan itu di adopsi blak-blakan tanpa modifikasi sama sekali. Paling tidak, jika pernah menonton Insidious (2010) dan Bram Stroker’s Dracula (1992) besutan Francis Coppola akan terasa peniruan terornya.

Film ketiga berkisah tentang penulis metafisik yang tak percaya akan keberadaan hantu secara akademis, justru mendapat sejumlah terror menakutkan. KOTAK MUSIK besutan Billy Christian mengambil latar urban. Dunia supranatural dan akademis memang menjadi dua kutub yang seolah saling berseberangan sampai salah satunya bisa dijelaskan melalui logika. Farah (Luna Maya) adalah orang yang sedang mengalami itu. Setelah melakukan penelitian anti-supranatural  dan menemukan kotak musik, Farah diteror sosok anak kecil yang terus menerus mengajaknya bermain. Sebagai film pendek horor, Kotak Musik cukup memberi faktor kejutan dan kekagetan bagi penonton. Dan lagi, tampaknya Luna Maya sudah siap berpakaian sexy lagi.

Berikutnya ada PALASIK, yang mengambil legenda Minang tentang manusia yang memiliki ilmu hitam. Menurut legenda, Palasik mengambil janin bayi sebagai makanan utamanya. Tujuannya agar ia semakin sakti. Kepercayaan Minang, palasik juga bisa turun temurun, apabila orangtuanya palasik, anaknya kemungkinan besar juga mewarisinya.  Pada film pendek ini, Palasik berkisah tentang satu keluarga yang sedang berlibur di sebuah vila. Liburan yang membawa petaka bagi Ibu Hamil (Imelda Therinne). Sejak sampai di vila, ia merasa ada sesuatu yang salah dengan vila itu. Terlebih ada satu ruangan yang selalu tertutup. Ruangan yang menyimpan kisah suram masa lalu. Sayangnya, lewat tangan Nicho Yudifar, Palasik terlalu kasar meski usaha untuk menghadirkan sosok kepala terbang boleh diberi jempol. Tak ada hal yang membuat penonton merasa sebuah ketakutan mencekam layaknya sebuah horor.Palasik akhirnya hanya menjadi sebuah kisah legenda yang tidak digarap dengan baik.

Terakhir, LOKET. Film ini pada awalnya nyaris berupa monolog film yang bertumpu pada satu karakter. Awalan yang mencekam terbangun baik lewat karakter Penjaga Loket parkir yang sepi. Teror yang didapat mulai dari lampu yang mati sendiri, suara handy talkie sampai portal parkir yang macet. Tak itu saja, Ichi Nuraini si Penjaga Loket, juga diteror kemunculan dirinya sendiri dan perempuan tua. Bangunan monolog tunggal ini memuncak saat karakter-karakter yang muncul kemudian menjelaskan suatu peristiwa pembunuhan. Harvan Agustriansyah dalam durasi singkat cukup bisa menyajikan teror-teror itu ke penonton.

Secara keseluruhan, Hi5teria menjadi sekedar omnibus horor, sekedar ikut trend film pendek. Bukan menawarkan hal baru, Hi5teria malah terjebak pada peniruan-peniruan atas film horor yang lain. Untuk urusan mencekam, Hi5teria masih jauh dibawah Fisfic 6, bahkan tak bisa pula disejajarkan dengan TAKUT. Meski demikian, tema lokal dan urband legend menjadi kredit positif bagi sebuah film horor Indonesia. Tak perlu hantu berdarah-darah yang wujudnya aneh bin ajaib seperti film-film horor Indonesia yang murahan itu, Hi5teria cukup memanfaatkan kisah-kisah mistis yang beredar di masyarakat senormal mungkin. Tak terlalu baik, tapi juga bukan berarti gagal.

*kredit foto:http://id.wikipedia.org/wiki/Hi5teria*

Tuesday, May 01, 2012

Postcard From The Zoo (2012): 4 Babak Hidup Manusia versi Kebun Binatang

Apa yang dilihat orang di Kebun Binatang? Kebanyakan sebetulnya mereka, orang-orang itu tidak menonton hewan yang dikurung disana, tetapi justru orang-orang inilah yang ditonton para hewan. Atau malah sejatinya adalah saling menonton, seolah keduanya saling becermin dan menaksir diri masing-masing. Tetapi karena menurut kodratnya hanya manusia yang memiliki akal- dan dengan demikian bisa menaksir ke-akal-annya- maka manusia bisa lebih bebas menafsir (perilaku) hewan. Edwin ingin penonton menafsir hewan dan kebun binatang menurut versinya.

Ada empat babak kehidupan manusia yang berusaha disampaikan Edwin lewan personifikasi Kebun Binatang. Yang pertama adalah Zoo yang secara sederhana berarti tempat memelihara sekaligus mempertunjukan hewan(liar) kepada publik. Definisi yang umum, tapi tak sedikit pula yang mengerti bahwa zoo juga berarti situasi keterasingan dan kebingungan. Lana kecil (Klarysa Aurelia Raditya) berlari kecil di dalam kebun binatang pada suatu pagi. Ia berteriak mencari ayahnya. Siapa ayahnya sepertinya tak penting bagi penonton, tapi scene awal film ini cukup memberi gambaran penonton bahwa manusia memang dilahirkan terasing dan dalam kondisi kebingungan.

Sampai suatu saat, Lana kecil tumbuh dewasa (Lana dewasa diperankan Ladya Cheryl) dan menjadi bagian “liar” Kebun Binatang. Lana ikut pula mengurus hewan-hewan di sana. Dari empat hewan yang dijadikan simbol, Edwin menggiring Lana untuk jatuh cinta pada Jerapah. Saat dewasa inilah, ada pengumuman larangan “penghuni liar” yang ada di kebun binatang untuk pindah. “Paksaan” pindah ini mengingatkan pada konsep hijrah atau merantau (dalam budaya Minang). Pada titik ini, kebun binatang memang diperuntukan bagi hewan. Inilah tahapan kedua babak Kebun Binatang: Endemic, yang sesungguhnya bermakna lingkungan asli. Ya, kebun binatang memang lingkungan yang diperuntukan bagi hewan, bukan penghuni liar semacam Lana.

Untuk sejenak, Lana kehilangan teman sampai ia bertemu Pesulap berkostum koboi (Nicholas Saputra). Bersama Pesulap Koboi ini, untuk pertama kalinya, Lana Dewasa bersentuhan dengan dunia luar kebun binatang. Lana memasuki tahap relocation. Ya, manusia berpindah ke tempat baru dan berusaha eksis di dunia yang baru. Lana yang lugu mengikuti Pesulap Koboi hingga kemudian terjebak di dunia prostitusi terselubung. Berkat perpindahan ini, Lana lupa akan rumahnya: Kebun Binatang.

Lewat istilah translocate, Lana kembali berpindah ke kebun binatang. Kali ini ia berusaha menggapai cita-citanya sedari kecil yang sangat sederhana. Cita-cita masa kecil kadang bisa membekas dan menuntun kita kembali ke rumah.

Empat babak kehidupan Lana ini memang penuh simbol. Tapi pada titik tertentu, Lana adalah cerminan keterasingan, kesendirian dan oleh karenanya, Lana yang polos menjadi kesepian dan asik dengan dunianya sendiri. Kadang tanpa diminta, Lana bisa lancar berbicara soal hewan-hewan di Kebun Binatang, termasuk soal Leopard saat ia melayani pelanggan di Planet Spa. Lana juga bisa asik bercerita tentang jerapah, yang juga kesepian karena menjadi satu-satunya Jerapah di Kebun Binatang, meski pengunjung tampak tidak tertarik dengan cerita Lana. Lana yang terasing direkam apik oleh Sidi Saleh yang begitu baik merekam Lana yang kesepian di tengah keramaian, seperti juga para hewan di Kebun Binatang.

Berbeda dengan film panjang pertama Edwin, Babi Buta Yang Ingin Terbang (2008), sesungguhnya Postcard From The Zoo terasa lebih ringan sekaligus rumit. Kalau pada Babi Buta Yang Ingin Terbang kita diberi latar belakang karakter agar bisa mengikuti jalan cerita dengan mudah, maka pada Kebun Binatang, Edwin ingin penonton menafsir sendiri simbol-simbol yang ada. Tak ada latar sejarah mengapa Lana bisa ditinggalkan begitu saja di Kebun Binatang sedari kecil, atau motif yang membuat Lana terdampar di Planet Spa, atau kenapa Pesulap Koboi tiba-tiba menghilang begitu saja. Kerumitan inilah yang bisa membuat penonton keluar dari bioskop dengan bertanya-tanya. Bisa saja itu tidak penting untuk membuatnya terasa ringan dan tidak bertele-tele tentang latar belakang agar penonton tidak terjebak pada tafsiran Edwin. Atau kalaupun persoalan teknis penceritaan di film ini malah bikin tambah mumet, buat saya obatnya cuma acting Ladya Cheryl sebagai Lana yang lugu cukup membuat gemas dan memaksa saya tetap duduk di kursi.

Apa yang orang cari di Kebun Binatang? Kalau saya sih mencari Ladya Cheryl berkostum Leopard dengan nomor dada 33…
*sumber gambar: majalahcobra.com*

Tuesday, March 20, 2012

Si Mamad (1973): Sjumandjaja Memotret Kejujuran


Korupsi tampaknya sudah menjadi sindiran di film Indonesia jauh sebelum hingar bingar seperti sekarang ini. Menariknya, tema korupsi bahkan sudah menggelinding di era-era awal Orde Baru, orde yang melahirkan korupsi yang menggurita selama 32 tahun, dan diteruskan rezim sesudahnya. Bagaimana Sjumandjaja membaca korupsi? Itulah Si Mamad.

Agak menggurui, Sjumandjaja bertutur soal korupsi. Bercerita lewat karakter Pak Muhamad, akrab di panggil Pak Mamad, yang kelewat jujur dalam menjalankan pekerjaannya. Selain jujur, Pak Mamad adalah orang yang punya dedikasi tinggi pada pekerjaannya. Selama 20 tahun bekerja, rutinitasnya hampir sama. Saking rutinnya, suara sepeda tua Pak Mamad menjadi penanda waktu bagi orang lain.

Pak Mamad (Mang Udel) hidup sederhana, kata lain dari miskin sebenarnya. Dengan 6 anak, 5 di antaranya masih kecil-kecil, Pak Mamad tidak bisa di bilang berkecukupan. Sriti (Rina Hassim), istri Pak Mamad, sering mengeluh gula dan kopi sudah habis. Sementara Siti (Ernie Djohan), tak juga mendapat pekerjaan (atau jodoh?). Juga Jantuk, anak terkecilnya sering merengek minta di belikan mainan. Padahal, cita-cita keluarga Pak Mamad cukup sederhana, bisa minum teh di kebun sambil duduk sore-sore. Bahkan, lewat durian, Sjumandjaja menyindir ironi kemiskinan.

Bagi Sjumandjaja, rutinitas Pak Mamad adalah cerminan orang jujur, baik hati dan bersahaja. Dedikasi pada rutinitas itu yang membuat Pak Mamad tak sempat ngobyek, istilah untuk mencari tambahan di luar pekerjaan utama. Pak mamad tidak tergoda akan hal itu sampai mendapati istrinya hamil.

Pak Mamad yang sudah memiliki 6 anak pun pusing bukan kepalang. Mulai lah ia tergoda korupsi. Istighfar saja rasanya tidak cukup mengatasi kemiskinan yang membuat dia tergoda. Tetapi, saking mendarah dagingnya korupsi di lembaga pemerintahan, setiap orang jadi memakluminya, termasuk Tuan Samblun, sang Direktur Arsip. Tapi, kemakluman tanpa penjelasan bukanlah ciri Pak Mamad. Ia merasa harus menjelaskan kenapa harus berbuat demikian yang sesungguhnya bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.

Film Si Mamad seolah menyindir perilaku para pegawai Negara yang acuh terhadap pekerjaannya. Masuk kantor telat, dan menjelang siang sudah pada keluar kantor. Si Mamad juga menegaskan perilaku birokratis berdasarkan pangkat pada pegawai Negara. Atau ada juga pegawai Negara yang mengharap pesugihan dengan mendatangi makam-makam kuno.

Perilaku pegawai Negara yang punya posisi penting pun tak luput dari sorotan. Sebagai pembesar, Pak Direktur pun ikutan ngobyek, tentunya dengan pendapatan lebih besar dari bawahannya, dan hidup mewah dengan anak istrinya. Anak istri? Belum tentu! Kata Dokter Budiman (Rachmat Hidajat), “Dalam berkeluarga di jaman modern seperti ini, anak itu gak harus mirip ibunya..terlebih bapaknya.” Kalimat yang mengisyaratkan kemakluman terhadap gonta-ganti istri atau isu istri simpanan di kalangan pejabat.

Sjumandjaja tidak menggurui tentang pandangan agama terhadap korupsi. Lewat Si Mamad, Sjumandjaja berusaha memberikan pemahaman yang justru lebih kuat dari pada agama: Hati Nurani. Bagaimana Pak Mamad berperang dengan hati nuraninya sendiri dan merasa bersalah, hingga pada akhirnya membuatnya jatuh sakit. Nah, Mang Udel apik sekali memerankan tokoh Mamad. Celetukan-celetukannya pas dan memberi warna satire pada film ini. Tapi di balik hitam-putih karakter yang ada di Si Mamad, Sjumandjaja menyelipkan karakter tokoh abu-abu lewat Dokter Budiman. Ya, saya merasa Dokter Budiman ini karakter abu-abu, dia terlihat begitu peduli dan mau membantu Pak Mamad sekaligus juga punya motif tertentu: Cinta Siti.

Film Si Mamad adalah hasil pengembangan cerita pendek karya Anton Chekov, Matinya Seorang Pegawai Negeri. Lewat tangan Sjumandjaja, Si Mamad menjadi penceritaan terbaik drama 3 babak yang sederhana. Kesederhanaan ini diganjar piala Citra untuk kategori Film Terbaik dan Pemeran Utama Pria terbaik FFI 1974. Meski pengenalan karakter tokoh Pak Mamad cukup panjang dan bertele-tele, tapi film ini enak dinikmati. Enak dinikmati karena alur bercerita linier, tidak berbelit-belit, dan langsung tepat sasaran. Karena tepat sasaran itulah, kita paham bagaimana korupsi bekerja.

Tetapi yang paling penting adalah mengenang masa lalu. Lewat film-film tua seperti Si Mamad inilah, penonton dibawa ke masa-masa Jakarta ditahun 70’an. Dan itu kesempatan langka.

*kredit foto: Diambil dari djadoelantik.blogspot.com *

Mata Tertutup (2011): Membuka "Mata" Terhadap Garin Nugroho


Mendengar nama Garin Nugroho yang terlintas adalah sederetan karya film yang "berat", banyak simbol, membuat dahi mengrenyit, film ngantuk, film festival dan sebagainya. Mungkin itulah yang terlintas di benak penonton, ketika saya menonton Mata Tertutup hanya dengan 8 orang lain di sebuah bioskop. Dari twitter, saya mendapati bahwa ada 18 orang lain yang juga menonton film ini di sebuah sesi pemutaran. Jumlah penonton yang tak sebanding dengan nama besar Garin Nugroho.


Mestinya sih, sederet ketakutan itu bisa sirna ketika menonton Mata Tertutup (2011), film besutan Garin Nugroho yang ke-18 sebagai sutradara menurut situs IMDB. Mata Tertutup yang diangkat berdasarkan hasil riset Maarif Institute tentang aktivitas kelompok-kelompok Islam Fundamental, salah satunya Negara Islam Indonesia, ini skenarionya ditulis oleh Tri Sasongko.


Kisah Mata Tertutup terfokus pada tiga karakter utama. Ada Rima (Eka Nusa Pertiwi) seorang mahasiswi cantik yang mengalami proses indoktrinasi NII dan akhirnya menjadi bagian penting dari organisasi tersebut. Kedua adalah Jabir (M. Dinu Ismansyah) santri penyayang ibu yang terusir dari pondok karena tak mampu membayar SPP. Dan ketiga adalah Asimah (Jajang C. Noer) perempuan paruh baya yang kehilangan Aini yang (kemungkinan) bergabung dengan NII.


Karakter Rima adalah mahasiswi cantik yang aktif berkegiatan selain kuliah. Ke-aktif-an ini lah yang membuat ia "diculik" dan mengalami proses indoktrinasi NII. Dia kemudian menjadi tulang punggung NII dalam merekrut dan menggalang dana bagi "perjuangan" NII. Orang tuanya tak tahu aktivitas Rima. Mereka hanya maklum, Rima punya kegiatan yang banyak dan padat, yang, menurut ayahnya, merupakan kegiatan positif.


Sementara Jabir setelah terusir dari pondok, bertemu pedagang buku keliling di terminal. Pedagang buku ini lah yang lantas membuat Jabir berubah. Jabir bersama temannya bekerja keras menghasilkan uang dengan menjadi kernet bus kota. Jabir yang sangat peduli dan sayang kepada ibunya ini ingin membuat ibunya bangga. Dia tak mengaku keluar dari pondok.


Asimah adalah sosok yang lain. Dia adalah ibu yang terbelenggu kisah masa lalu. Dia tak ingin kisah hidupnya yang getir juga menular ke anaknya, Aini. Sebagai ibu, Asimah terlalu kaku mengekang Aini. Rizal, sepupunya, menganggap Aini hanya minggat sementara untuk lari dari kekangan ibunya, sementara Asimah percaya bahwa Aini hilang di rekrut NII.
Keluarga menjadi identitas penting ketiga tokoh ini. Bagaimana keluarga turut membentuk sikap dari masing-masing karakter. Di titik ini, Tri Sasongko dan Garin seolah ingin mengingatkan kembali keberadaan orang tua sebagai "penguasa tunggal" sebuah keluarga. Bagaimana "penguasa tunggal" di rumah ini juga turut menentukan jalan hidup orang lain (baca: anak).


Tengok keluarga Rima yang nasionalis, ditandai dengan sang Ibu yang melatih anak-anak menyanyikan lagu-lagu perjuangan nasional. Keluarga nasionalis ini turut membentuk Rima yang kemudian tertular ide tokoh-tokoh besar berkat bahan bacaan yang cukup politis. Sementara sang ayah, cukup senang dengan kesibukan Rima beraktifitas dan percaya bahwa yang dilakukan Rima adalah hal baik.


Keluarga Jabir dihadapkan pada kemiskinan. Sementara ibunya bekerja sebagai buruh angkut pasar, ayahnya menganggur dan tak bekerja, ia hanya bisa meminta uang pada ibunya sambil setengah mabuk. Jabir yang menjadi saksimata kemiskinan ini lantas bertekad membahagiakan ibunda. Dan bagi Jabir, setelah serangkaian mengikuti pengajian yang di adakan di tempat si Pedagang Buku Islam, surga adalah tempat yang layak bagi ibunda, dan mati syahid adalah jalan yang harus ditempuh Jabir untuk ibunya.


Asimah adalah sosok orangtua tunggal yang harus bekerja dan menghidupi keluarganya. Sejak ditinggal suaminya begitu saja, Asimah membuka usaha kerajinan tangan dibantu beberapa saudaranya, termasuk keponakannya, Rizal. Asimah yang keras terlalu mengekang Aini dan Rizal. Rizal pun mengeluarkan uneg-uneg bagaimana mereka dianggap seperti anak kecil oleh Asimah.


Orangtua pada Mata Tertutup adalah tempat untuk kembali setelah "keluar" rumah untuk tujuan apapun. Keluarga inti juga seharusnya menjadi tempat keluh kesah yang hangat, tidak dingin dan beku. Komunikasi di rumah sepertinya harus pula terjadi dengan baik, baik verbal maupun visual, agar para penghuninya saling memahami. Tanpa menggurui, Mata Tertutup sanggup memberikan pesan itu.


Film ini buat saya adalah film buatan Garin yang sangat terbuka. Tanpa simbol-simbol yang hanya bisa dipahami penggiat filsafat komunikasi-Semiotika yang njelimet. Garin blak-blak-an menunjukkan keberpihakannya tanpa tedeng aling-aling. Penonton akan paham (jika mengikuti berita tentang NII) kenapa si Pedagang Buku berlogat Indramayu pesisir. Saking gamblangnya, dan karenanya, Mata Tertutup sangat enak dinikmati. Yang cukup mengganggu adalah beberapa gambar yang out focus...


Para aktor dan aktris yang bermain di Mata Tertutup sangat terlihat wajar. Untuk itulah, buat saya, Jajang C. Noer seolah berlari sendiri, karena standar "teatrikal" aktingnya menjulang di atas pemain yang lain. Justru saya angkat topi untuk Eka Nusa Pertiwi dan M. Dinu Ismansyah yang berangkat dari bukan siapa-siapa malah mewarnai film ini. Bahkan Kukuh yang memerankan Husni cukup membuatnya jadi ice breaking kala film ini mulai datar dan sedikit membosankan.


Tema seperti ini juga pernah di angkat Hanung Bramantyo lewat Tanda Tanya (2010). Hanya saja, pada Tanda Tanya, penonton di biarkan sendiri mencerna kisahnya karena banyak sekali karakter dan cerita dibaliknya yang ingin ditampilkan. Sementara Mata Tertutup menjadi sangat positif dan bisa fokus pada jalinan cerita, dan punya benang merah yang sama yakni NII.


Mata Tertutup mengingatkan pada propaganda pemerintah Orde Baru lewat film Pengkhianatan G30S. Mata Tertutup jelas berpihak pada si benar: Keluarga dan menempatkan NII pada posisi berseberangan. Dari awal film, penonton sudah digiring pada opini itu. bagi saya, ini tidaklah buruk. Film bagaimanapun juga adalah media keberpihakan. Kalau yang lain tampak abu-abu, Garin kali ini cukup berani berpihak.

Mata Tertutup adalah film Garin yang bisa dinikmati dengan mata terbuka.

*kredit foto: http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-m012-11-427249/mata-tertutup#.T2dWJdnj5kg *

Monday, March 19, 2012

The Woman in Black (2012): Horor Yang Penuh Pertanyaan


Biasanya, saat menonton film selalu timbul pertanyaan-pertanyaan. Yang paling sering adalah "kenapa begini sih?" atau "kok begitu?". Pertanyaan-pertanyaan itu timbul karena aksi-reaksi yang muncul selama menonton film. Biasanya, selama film itu belum credit title, pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab seiring film berjalan. Tapi kadang, sampai film berakhir, pertanyaan-pertanyaan itu tak terjawab dan membuat "gregetan".

The Woman In Black (2012) garapan James Watkin berdasar novel The Woman In Black tulisan Susan Hill sukses membuat saya gregetan. Film yang bersetting Inggris di awal abad 20 bercerita tentang kiprah Arthur Kipps (Daniel Radcliffe) dalam mencari surat-surat penting di Eel Marsh House, sebuah rumah tua di sebuah desa di Inggris, agar rumah itu bisa terjual. Arthur, setelah kematian istrinya saat melahirkan Joseph anak lelaki satu-satunya tampaknya hidup dalam kemuraman. Tugas dari sebuah firma hukum merupakan tantangan bagi Kipps untuk menunjukkan bahwa ia masih bisa produktif dan bangkit dari kemuraman.

Arthur Kipps lantas berangkat menuju Eel Marsh House, meski penduduk desa setempat tak menghendaki keberadaannya. Kipps dengan bergeming menyatakan akan tetap menyelesaikan pekerjaannya yang berkaitan dengan surat-surat yang ada di Eel Marsh House. Di rumah tua inilah Arthur Kipps kemudian menemukan banyak rahasia yang tersimpan, berkaitan dengan serentetan tragedi mistis yang menimpa warga desa.

Rumah tersebut menyimpan banyak teka-teki. Di tandai dengan kemunculan sosok perempuan bergaun hitam di sekitar rumah. Kipps juga menemukan bahwa pemilik rumah, keluarga Drablow adalah keluarga yang penuh misteri. Kipps menemukan serangkaian surat menyurat panjang antara Alice Drablow, pemilik Eel Marsh House, dengan Jannet, adiknya, berkaitan dengan tewasnya Nathaniel Drablow. Surat menyurat panjang ini menuntun Kipps pada sikap warga desa terhadap Eel Marsh House.

Kipps yang cukup bernyali tinggal di Eel Marsh House lantas menjumpai teror-teror mistis di sana. Selain kemunculan perempuan bergaun hitam, Kipps juga di teror suara-suara dan aktivitas mistis lainnya. Sampai ia menjumpai Elizabeth Daily, istri dari Sam Daily. Lewat lukisan karya Elizabeth, pelan-pelan Kipps merangkai sejumlah jawaban atas teka-teki yang ada. Lewat bantuan Sam Daily, yang sesungguhnya anti-mistis, Kipps berusaha menyelesaikan rangkaian misteri sekaligus pekerjaannya.

Daniel Radcliffe yang memerankan Arthur Kipps sebenarnya mampu memerankan karakter yang anti-mistis, peragu dan rasional. tapi, perubahan dari sikap-sikap itu menjadi penuh mistis tidak kentara. Radcliffe juga tidak mengesankan bahwa ia di teror. Nyaris sepanjang film, Kipps (memang) diceritakan punya nyali lebih dan berani berhadapan dengan hantu.

Bangunan horor film ini justru hadir lewat properti boneka-boneka dan mainan anak kecil abad 19 yang memang menyeramkan dan (kata teman saya) menunjukkan sifat depresif pemiliknya. Formula klasik horor pun juga digunakan film ini: Bangunan rumah tua yang tak terurus. Kombinasinya cukup memberikan teror mengagetkan penonton, meski tidak sampai mencekam. Beberapa bahkan menjadikannya mudah di tebak.

Bagi yang pernah menyimak Daniel Radcliffe yang (dipaksa) dewasa dalam My Boy Jack (2007) sebagai John Kippling, sosok Arthur Kipps malah terlihat manis. Untuk mengatasi ke-manis-an Radcliffe yang menjulang berkat sosok Harry Potter, ia di make-up berkumis tipis dan rada brewok. Tapi buat saya, Kipps dengan Daniel tetap kurang gagah dan dewasa.

Teknis lain yang saya sukai adalah setting desa di Inggris di awal abad 20 yang lembab, suram dan dingin. Di tandai dengan color tone yang pucat, cukup mewakili sisi misteri pada film ini.

Film The Woman In Black mengingatkan pada 1408 (2007) yang bertumpu pada teror terhadap satu orang. Jika John Cusack bisa menghadirkan monolog ketakutan itu, Radcliffe tidak. Entah karena Arthur Kipps ini adalah pemberani atau memang Radcliffe kelewat manis.

Kembali ke soal pertanyaan...

Satu yang mengganjal buat saya... Apakah anak 7 tahun itu di bunuh karena kondisi mental ibunya? Tampaknya (mungkin) saya harus baca novelnya...

*kredit foto http://www.imdb.com/media/rm2641670400/tt1596365 *