Selamat Datang...

...tolong bangunkan aku esok pagi...

Friday, January 07, 2011

Kantata Takwa: Tidak Sekedar Film Eksperimental

Iwan: "Saya gak mau terjebak di dakwah (Agama), Mas.."
Djody :"Ya..dakwahnya ga begitu.."

Demikian sepenggal dialog yang terekam dalam film Kantata Takwa. Dialog kegelisahan Iwan Fals yang berhadapan dengan seniman-seniman besar yang gelisah atas kondisi sosial masyarakat pada sat itu. Adegan itu selain Iwan Fals juga ada Sawung Jabo, WS Rendra, Jockie Suryoprayogo dan Setiawan Djody. Mereka duduk bersama merumuskan konsep bermusik dan idealisme Kantata Takwa. Rendra menekankan perlunya dakwah sosial, sementara Iwan khawatir Kantata Takwa akan terjebak pada dakwah agamis yang puritan. Namun, Setiawan Djody sebagai pemegang "kekuasaan" menengahi akan model dakwah Kantata Takwa (nantinya).

Film Kantata Takwa bisa jadi film Indonesia yang dibuat dengan rentang waktu yang amat panjang. Memulai syutingnya pada 1990D dan akhirnya bisa screening di April 2008. Ada banyak penyebab yang saya tidak paham, mengapa film garapan Eros Djarot dan Gotot Prakosa ini tertunda sampai 18 tahun! Bahkan sebagian footage hasil syuting di 1990 itu telah rusak, terendam banjir, dan membuat filmmakers-nya kerja keras merestorasi seluloidnya...

Film Kantata Takwa tergolong film dokumenter eksperimental pada jamannya. Proses kreasi dua sutradara yang mungkin (ini anggapan saya saja) jenuh dengan format dokumenter biasa. Eros dan Gotot dengan sangat baik mengeksplorasi Kantata Takwa menjadi sebuah pertunjukan teatrikal di layar perak. Film ini memang didukung para punggawa teater Bengkel Teater Rendra. Rendra sendiri banyak menyumbang syair-syair puisi miliknya yang memang sebagian kemudian menjadi lirik-lirik lagu karya Kantata Takwa (juga Swami). Menariknya, film ini minim dialog...banyak monolog dan olah gerak teatrikal.

Selain adegan teatrikal, film ini juga memasukkan footage konser Kantata Takwa di Stadion Utama Senayan (sebelum berubah menjadi SUGBK) pada 1991. Konsernya sendiri bagi saya merupakan konser musisi lokal termegah sampai saat ini. Kantata Takwa menggabungkan aksi musik dan aksi teater di satu panggung yang sama. Dapat dilihat jika aksi teatrikal di panggung itu merupakan representasi lirik-lirik Kantata Takwa. Tak tanggung-tanggung, banyak alat musik di gotong ke panggung, bahkan mereka memainkan dua drum set bersamaan! Meski secara resmi, Kantata Takwa beranggotakan 5 orang, namun aksi panggung itu didukung musisi hebat: Totok Tewel, Donny Fatah, Innisisri, Budi Haryono, Eet Sjahranie dan lain-lain.

Konser Kantata Takwa sendiri memang menjadi konser besar dengan tata panggung luas, tata cahaya dengan efek laser dan tentunya penggunaan venue besar (Stadion Senayan). Tak ada lagi musisi lokal yang bisa manggung tunggal di Senayan selain Kantata Takwa. Meski demikian, sedikit banyak tidak dapat dipungkiri bahwa konser tersebut bisa terlaksana akibat andil dari Setiawan Djody yang dekat dengan Cendana saat itu.

Tak berbeda jauh dengan konsernya, setiap adegan di film Kantata Takwa adalah representasi visual Eros dan Gotot terhadap lirik-lirik Kantata Takwa dan puisi-puisi WS Rendra, baik dialog maupun gerak lakon. Seperti misalnya saat Rendra berargumen dengan hakim soal hukum dan keadilan yang diiringi lagu Paman Doblang. Dialog yang mempertanyakan nurani penegak hukum di hadapan pengadilan.

Scene menarik lainnya adalah dialog Iwan Fals dengan serombongan anak kecil yang usai berenang. Anak-anak tersebut memperkenalkan dirinya dengan nama-nama ke-bule-an. Anak-anak tersebut pun mengenal Iwan, mereka memanggilnya Om Bento. Sesaat setelah Bento dinyanyikan, adegan komedik pun muncul. Sosok "Bento" yang sedang mengukur tanah, di kejar serombongan anak kecil bugil. Dan si "Bento" terbirit masuk ke sedan BMW-nya.

Selain pengadeganan yang jelas maknanya, film ini penuh simbol. Adanya perempuan berjilbab putih menegaskan kesan dakwah Kantata Takwa (mungkin karena ada kata Takwa disitu). Meski saya gagal paham juga mengapa si gadis berjilbab putih ini muncul dengan raut wajah datar, tanpa ekspresi sama sekali dan tidak bersuara. Si Gadis Berjilbab Putih nyaris ada dalam setiap perburuan yang dilakukan oleh orang-orang bersenjata. Dan si Gadis Berjilbab Putih juga kemudian muncul di setiap eksekusi pembunuhan yang di lakukan orang-orang bersenjata itu terhadap seluruh punggawa Kantata Takwa.

Film ini jelas mengkritisi kondisi sosial yang ada pada masyarakat kita waktu Soeharto sedang berkuasa. Munculnya karakter pembunuh yang mengenakan topeng gas, jas hujan, sepatu lars dan bersenjata laras panjang adalah representasi atas kekuatan militer yang digunakan atas nama kekuasaan. Mereka memburu orang-orang yang berseberangan. Kekerasan di alami warganegara tanpa ada perlawanan. Orang-orang bersenjata ini mengejar, menyeret, menyiksa rakyat tanpa tahu apa artinya. Toh, para pemakai sepatu lars ini adalah pengabdi perintah yang dilarang mempertanyakan titah atasan. Para anggota Kantata Takwa pun tak lepas dari kejaran mereka. Semuanya tewas diburu dan dibunuh pasukan topeng gas ini. Seolah menegaskan resiko yang ditanggung jika nekat melawan penguasa. Tapi toh, mereka dengan konsisten tetap melawan (lewat seni) dan tak ingin mengingkari hati nurani.

Tokoh penguasa lalim dimunculkan lewat karakter Pak Lurah. Seorang warganegara yang marah berteriak Pak Lurah hidup nyaman karena lalim. Istri si warganegara di perkosa anak Pak Lurah, supir Pak Lurah berlaku maling. Seketika amarah warganegara memuncak sebagai pengantar lagu Bongkar (Swami).

Meski tergolong film eksperimental, Kantata Takwa cukup enak dinikmati. Ada jalinan cerita dari rangkaian-rangkaian lagu dan lirik Kantata Takwa (juga Swami) yang menjadi dasar pengadeganan di film ini. Tidak seperti eksperimental Garin Nugroho di Generasi Biru,Kantata Takwa terasa lebih memuaskan dahaga saya akan sebuah film eksperimental yang bisa saya nikmati. Bagaimana tidak, Kantata Takwa memang didukung seniman-seniman yang memang total dan kaffah menekuni dunia seni, baik musik maupun panggung pertunjukan (teater). Mereka paham harus berlaku dan berlakon seperti apa sesuai dengan konsep film Kantata Takwa. Sementara Generasi Biru, buat saya sekedar film tentang Slank ditambah tari-tarian. Tak lebih...

Kredit terbaik memang disematkan pada filmmakers yang menyelesaikan film ini hingga tayang. 18 tahun bukanlah kurun waktu yang sebentar. Bahkan di credit opening film, beberapa filmmakers yang terlibat sudah ditulis almarhum (The Late).

Menonton Kantata Takwa adalah menonton dokumentasi musik Indonesia. Untuk itu film ini memang wajib menjadi rujukan film-film musik Indonesia yang jumlahnya terbatas (kecuali film-film Rhoma Irama).


Tuesday, January 04, 2011

Menjenguk Rumah Kata

Corat-coret di blog tampaknya menjadi hal yang malas saya lakukan tahun lalu. Kebanyakan apa yang terlewat di kepala saya tulis di dunia kicau: TWITTER. Ya, mikroblog 140 karakter ini menjadi sarana menulis dan menuangkan isi kepala. Renyah, spontan dan up to date menjadi alasan saya lebih sering berkicau di social media itu.

Meski dibatasi 140 karakter, twitter tidaklah membosankan. Kita dituntut spontan mengeluarkan kata-kata, apa yang terlintas di kepala bisa langsung "terucap". 140 karakter bukanlah halangan dalam menulis. Bahkan dalam beberapa kicau, kita belajar menjadi editor tulisan dengan meng-edit kicau orang lain yang akan kita twit. Tentunya tanpa menghilangkan esensi tulisan yang dimaksud.

Twitter pun menjadi sarana saya mengeluarkan uneg-uneg hati, pikiran baik soal keresahan hati maupun mengomentari isu nasional. Perkara ada yang membaca atau tidak, bukan halangan saya berkicau. Jujur saja, bukan urusan saya menyenangkan pembaca... Jika tak berkenan, silakan unfollow, mute atau block sekalian...

Well...tapi saya rindu nge-blog...menuliskan corat-coret panjang di internet. Ini lah tulisan saya di blog di tahun 2011.. Bagian dari wishes saya di 2011 adalah menulis blog, sesering mungkin menjenguk rumah kata ini, yang sudah usang, berdebu dan tak laku... Mudah-mudahan ini adalah awal dimana saya punya semangat menulis panjang lagi...

Wednesday, October 06, 2010

Heart of Jenin (2008): Satu hati, Lima Nyawa

Apa yang bisa di berikan sebuah film dokumenter? Reaksi. Setelah filmmaker membuat aksi dengan memfilmkan sebuah kejadian atau rangkaian kejadian dalam kurun waktu tertentu, kita, penonton seharusnya bisa memberikan reaksi tertentu, terlebih atas nama kemanusiaan.

Duo sutradara Jerman, Leon Geller dan Marcus Vetter mengantarkan sebuah tindakan aksi-reaksi sangat apik dalam film dokumenternya Heart of Jenin (2008). Film ini di buka dengan serah terima jenazah Ahmed Khatib di Tepi Barat, perbatasan Israel-Palestina. Ahmed Khatib di tembak tentara Israel pada hari pertama Idul Fitri, November 2005. Ahmed ditembak dengan sengaja oleh tentara Israel yang mengira ia membawa senapan sungguhan. Bocah 12 tahun asal Jenin ini sedang bermain dengan senapan mainan saat insiden terjadi.

Ahmed sempat di rawat di sebuah rumah sakit di Haifa, Israel selama dua hari sebelum akhirnya dinyatakan meninggal. Selama perawatan, jantung Ahmed berdetak karena bantuan mesin medik. Atas saran dokter rumah sakit, organ tubuh Ahmed akan di donorkan kepada anak-anak lain yang membutuhkan. Ismail Khatib, setelah berdiskusi dengan banyak orang, termasuk Mufti Jenin, akhirnya membolehkan donor organ tersebut, termasuk jantung.

Organ tubuh Ahmed di donorkan kepada 6 orang warga negara Israel. Organ jantung di donorkan kepada Shamah Gadban, 12 tahun, seorang Druze Aran di Dataran Tinggi Golan, Israel. Ginjal di donorkan pada seorang Baduy Arab Muslim, Mohammed (5 tahun) dan seorang gadis cilik Menuha Rivka Levinson berasal dari keluarga Yahudi Ortodoks berusia 3 tahun. Seorang remaja Yahudi juga menerima paru-paru, hati diterima wanita berusia 58 tahun dan balita 7 bulan yang tak selamat dalam operasi cangkok tersebut.

Film ini berkisah perjalanan Ismail Khatib menemui para penerima organ anaknya. Pro-kontra dan ketidak pahaman, baik warga Israel maupun Palestina mewarnai hampir sepanjang film ini. Keluarga Levinson, Yahudi Ortodoks, bahkan sangat keras tidak ingin berteman dengan Ismail Khatib atau orang Arab lainnya. Keluarga besar Ismail Khatib juga tidak diijinkan memasuki wilayah Israel meski memiliki surat-surat lengkap.

Meski sulit, Ismael berhasil menemui ketiga penerima organ anaknya. Momen terbaik adalah saat ia mengunjungi keluarga Gadban yang memberinya 200 tas sekolah untuk lembaga yang ia pimpin di Jenin. Momen canggung juga terekam baik saat Ismail bertemu keluarga Levinson. Ada percakapan yang menarik antara Yakoov Levinson dan Ismail dalam bahasa Israel yang diterjemahkan kerabat Ismail. Yakoov menyarankan agar Ismail pindah ke Turki atau London agar mendapat pekerjaan dan hidup lebih baik. Ismail membalasnya kenapa bukan Levinson saja yang pindah ke sana. Pertemuan dengan Levinson pun berlangsung dengan “jarak” terlihat dari gestur keduanya.

Problem kekerasan dan pendudukan Israel atas Palestina membuat kedua pihak sulit menemukan jalan damai. Insiden tertembaknya Ahmed juga bukan yang pertama kali. Sudah ratusan korban anak-anak Palestina yang tewas di tangan tentara Israel. Juga banyak anak-anak Israel yang tewas karena bom bunuh diri para martir Palestina. Melalui film ini, penonton di ajak berfikir bahwa perlawanan bersenjata yang penuh darah bukan lah jalan utama dan satu-satunya.

Ismail Khatib mencoba melakukannya dengan jalan pendidikan, dimana ia memimpin sebuah lembaga perdamaian yang pendanaannya di sumbang sebuah kota di Italia. Dia dengan tegas berkata bahwa apa yang dilakukannya lebih membuat Israel marah ketimbang menjadi martir bom bunuh diri, sebab Israel akan semakin senang ketika aksi bom bunuh diri tersebut memakan korban jiwa anak-anak Israel. Dengan demikian, menurut Ismail, Israel juga akan semakin gencar menghancurkan pemukiman Palestina bahkan sampai ke tanah negara Palestina itu sendiri.

Keputusan mendonorkan organ tubuh anaknya juga mendapat tentangan dari banyak pihak di Jenin, yang tentunya tak terima organ-organ tersebut jatuh ke warga negara Israel, terutama Yahudi. Mereka berfikir “bagaimana bisa organ tubuh Ahmad di donorkan kepada orang yang telah membuat ia tewas.” Tetapi Abla, ibunda Ahmed, tetap pada keputusan bersama Ismail. Selain itu, dukungan juga di berikan Zakaria Zubeidi, komandan Brigadir Martir al-Aqsa. Zakaria tidak bermasalah dengan Yahudi, sepanjang itu berkaitan dengan kemanusiaan.

Menyimak pernyataan Zakaria Zubeidi, persoalan Israel-Palestina tampaknya memang bukan persoalan religi atau keyakinan biasa. Yahudi dan Islam menjadi bumbu utama konflik yang tidak berkesudahan. Persoalan Israel-Palestina mestinya bisa dilihat dari sudut pandang yang lain, sehingga kedua pihak punya kesamaan visi dan pandangan akan kemanusiaan. Prosesnya memang sulit, terlihat dari stigmatisasi Levinson terhadap bangsa Arab yang menurutnya hanya ingin membunuh Yahudi Israel sebanyak-banyaknya. Tapi rekonsiliasi dan pemahaman akar masalah sangatlah dibutuhkan bagi setiap proses penyelesaian konflik.

Duo Jerman ini bisa memperlihatkan hal tersebut dan membuat saya berfikir tentang akar konflik yang berkepanjangan yang terjadi dimanapun di muka bumi: Ketidakpahaman akan masalah… Heart of Jenin membuka mata akan adanya secercah harapan bagi perdamaian Israel-palestina…Dan Heart of Jenin adalah film dokumenter yang bisa membuat saya meneteskan air mata…

Wednesday, April 28, 2010

Film Indonesia Terbaik Satu Dekade...versi saya...

Tahun 2010 belum juga berakhir, tapi setidaknya saya iseng-iseng menyusun Film Indonesia terbaik satu dekade ini (2000-2010). Film-film ini disusun bukan tanpa alasan, tapi dengan mempertimbangkan banyak hal, teknis dan non-teknis. Logika bercerita dan bertutur biasanya menjadi alasan saya untuk memberikan kredit positif buat sebuah film. Kedua, teknis gambar yang enak dinikmati mata saya yang awam. Ketiga kedekatan dengan realitas lokal. Meski film (fiksi) adalah gambaran realitas si pembuatnya, tapi paling tidak kalau mendekati realitas yang sesungguhnya, saya akan dobel nikmat menontonnya. Keempat tema yang diangkat tidak dangkal, ada pesan-pesan tertentu yang bisa saya tangkap. Tema yang diangkat bisa jadi sederhana, bisa jadi rumit dan kompleks...selama logika bercerita dan bertuturnya nyambung dengan kapasitas otak saya yang pas-pasan ini, pasti saya kasih kredit positif kepada filmnya. Daftar ini bisa saja berbeda dengan daftar pilihan anda, bebas saja kok.

Ini dia daftar 20 film Indonesia terbaik satu dekade ini versi saya:
1. cin(T)a - Samaria Simanjuntak, 2009
2. Janji Joni - Joko Anwar, 2005
3. Pintu Terlarang - Joko Anwar, 2009
4. Laskar Pelangi - Riri Riza, 2009
5. Arisan - Nia Dinata, 2003
6. Denias, Senandung Di Atas Awan - John De Rantau, 2006
7. King - Ari Sihasale, 2009
8. Jamila dan Sang Presiden - Ratna Sarumpaet, 2009
9. Pasir Berbisik - Nan T. Achnas, 2001
10. Rumah Dara - The Mo Brothers, 2009
11. Gie - Riri Riza,2005
12. Romeo Juliet - Andybachtiar Yusuf, 2009
13. Babi Buta Yang Ingin Terbang - Edwin 2008
14. Keramat - Monty Tiwa, 2009
15. Mirror - Hanny R. Saputra, 2007
16. Get Married - Hanung Bramantyo, 2008
17. Si Jago Merah - Iqbal Rais, 2008
18. Mengejar Matahari - Rudy Soedjarwo, 2004
19. Catatan Akhir Sekolah - Hanung Bramantyo, 2005
20. 3 Hari Untuk Selamanya - Riri Riza, 2007

Ada beberapa film yang saya juga beri kredit positif dan layak tonton seperti Queen Bee - Fajar Nugroho, 2009; Alangkah Lucunya (Negeri Ini) - Deddy Mizwar, 2010; Menebus Impian - Hanung Bramantyo, 2010; Apapun, daftar tetaplah hanya sebuah daftar...yang paling penting adalah menonton karya sineas anak bangsa yang berkualitas, tidak sekedar horor semi porno. Dan menonton (atau membuat) film adalah pengalaman personal, jadi interprestasi dan tafsir bisa berbeda.

Selamat Menonton!

Monday, April 19, 2010

Menebus Impian (2010)


Apa yang terbesit ketika mendengar kata impian dan selalu diucapkan berkali-kali? Kalau saya, langsung teringat dengan prospektor MLM. Ya..orang yang kerjanya memprospek orang lain untuk mau jadi downline-nya dalam bistis Multi Level Marketing. Terus terang, saya tak suka dengan MLM, apapun namanya, apapun unit bisnisnya, apapun produknya. Tetapi satu hal yang saya kagumi dari mereka adalah sikap tak kenal menyerah, karena mimpi buat mereka adalah panduan hidup. Menyerah berarti gagal...dan dalam bisnis MLM, sekali menyerah dan merasa gagal...maka akan sulit menemukan kembali semangatnya...Semua itu akan kembali hidup jika kita punya mimpi.

Menonton MENEBUS IMPIAN karya Hanung Bramantyo adalah menonton potret realitas masyarakat pinggiran. Masyarakat yang sebagian (kecil) sukses karena mimpi dan sebagian (besar) lainnya realistis menatap hidup. Film ini berkisah tentang Nur (Acha Septriasa) dan Ibunya, Sekar (Ayu Dyah Pasha). Sekar sebagai orang tua tunggal karena ditinggal suami harus bekerja menjadi buruh cuci untuk menghidupi keluarganya. Sementara Nur, punya impian dan cita-cita mengeluarkan Ibunya dari himpitan ekonomi. Nasib mempertemukan Nur dengan Dian (Fedi Nuril) yang bekerja sebagai prospektor MLM. Dian memberikan inspirasi bagi Nur untuk mulai mengejar mimpinya. Awalnya menjadi pelayan bar adalah pilihan utama, karena uang yang di dapat pasti dan teratur. Namun sejak Nur menemukan jalan di bisnis MLM, maka Nur memilih untuk berhenti jadi pelayan bar.

Jatuh-bangunnya Nur dalam menjalani bisnisnya terekam baik. Termasuk keluhan Nur yang bosan di lecehkan dan dihina karena pekerjaannya. Suka duka menjadi prospektor MLM pun digambarkan dengan dialog cerdas. Saat Dian berselisih dengan Nur, terlontarlah sindiran bagi orang-orang yang anti MLM seperti saya:"Dari pertama kita ketemu, kamu selalu nyuruh aku pergi. Tapi apa pernah aku mau Nur? Enggak. Ada juga kamu yg pergi duluan." Begitulah, kalau ada prospektor MLM (dan marketing lain) datang, saya memilih pergi duluan...Apa beda MLM dengan Money Game? Edukasinya juga di berikan dalam film ini.

Tapi film ini tidak sekedar MLM. Tidak suka pada MLM dengan menonton film yang dibiayai MLM adalah dua hal berbeda. Meski saya tidak suka MLM, tapi saya menikmati film ini sebagai potret realitas kerasnya hidup di Jakarta. Kawasan pinggiran yang padat, lingkungan yang berisi bermacam manusia, dari rentenir sampai yang menjadi PSK. Hidup jadi satu di tengah belantara kota.

Kredit terbaik saya berikan kepada Hanung dan Faozan Rizal sang penata Fotografi yang dengan jeli meng-eksplor padatnya pemukiman dengan bagus. Eksplorasi gambar di ruangan dengan menggunakan cermin membuat set terlihat lega. Dan ini adalah kunci bagaimana Hanung menghadirkan gambar-gambar indah di dalam ruangan sempit. Tata cahaya yang natural juga membuat film ini nyaman di tonton.

Soal akting, saya suka aktingnya Acha Septriasa, sangat suka! Terlebih waktu scene Nur minta maaf kepada Sekar, ibundanya..wah..itu best scene film ini. Dua karakternya menyatu plus set yang mendukung menjadikan saya terpaku menyaksikan adegan itu. Teringat ibu saya jadinya...Sementara Fedi Nuril terlihat semakin lekat dengan karakter pemuda pintar, polos dan lugu. Tapi karakter Dian ini polos-nya lebih baik daripada Fahri di AAC. Dan gaya Fedi memprospek orang sangat MLM. Ayu Dyah Pasha juga menghadirkan karakter Sekar sebagai sosok ibu yang bertanggung jawab terhadap anaknya, pekerja keras dan pantang mengeluh.

Film ini saya nikmati, logika bertuturnya runut dan masih bisa di terima otak saya yang pas-pasan ini. Meski ada beberapa adegan yang janggal, tapi itu tidak mengurangi inti cerita. Kalau saya bilang, beginilah seharusnya film Indonesia dibuat..Semuanya tidak ada yang mudah, tapi kalau dikerjakan serius, hasilnya bagus!

Kredit Foto: http://www.menebusimpian.com/