Selamat Datang...

...tolong bangunkan aku esok pagi...

Sunday, November 25, 2012

Seven Psychopaths (2012)



Gara-gara seekor anjing, tiga sekawan beda bangsa dan karakter menjadi incaran mafia yang gila.
Film ini berkisah tentang penulis, Marty (Colin Farrell), yang sedang berusaha menyelesaikan naskah filmnya. Dalam menyelesaikan naskah filmnya, ia dibantu temannya, Billy (Sam Rockwell), yang profesinya adalah mencuri anjing untuk dikembalikan oleh Hans (Christhoper Walken). Hans sendiri mendapat uang dari hasil “mengembalikan” anjing-anjing curian ini.

Marty ingin menyelesaikan naskah Seven Psychopaths, yang menurutnya adalah naskah film tentang psikopat tanpa harus berdarah-darah. Billy menganjurkan karakter seperti Jack The Diamond yang berkeliaran di LA membunuh para penjahat, atau seorang Quaker yang ditinggal mati anaknya yang dibunuh. Billy yang sedikit banyak mendikte cara berfikit Marty sampai membuat iklan lowongan bagi para psikopat untuk datang dan menceritakan kisahnya.

Masalah datang saat Billy mencuri anjing puddle kesayangan Charlie (Woody Harrelson), mafia gila yang psikopatik. Charlie dan anggota mafia-nya datang dan memburu Billy dan Hans. Marty tanpa sengaja ikut dalam rombongan yang diburu Charlie. Ketiganya terpaksa mengungsi ke gurun, bermain “tikus dan kucing” dengan Charlie. 

Film ini adalah film tentang membuat film. From the idea, script until screening. Pelakunya adalah Marty, imigran Irlandia yang alkoholik, dibantu Billy, Australia yang jobless. Hingga akhirnya Marty bertemu Hans, orang Polandia yang menikahi Negro Amerika. Sampai di gurun pun, ketiganya masih aktif mendiskusikan bagaimana naskah film Marty nantinya. 

Sepanjang film, penonton disuguhi dialog-dialog yang absurd dan mengundang tawa, terutama dari Billy yang ceplas-ceplos dan apa adanya. Terutama saat Billy mengkritik ucapan Gandhi yang terkenal: An eye for an eye leaves the world blind. Menurut Billy tersisa satu orang dengan satu mata, karena bagaimana dia mengambil mata lawannya jika dia sendiri buta? Tak ada  yang berani mengkritik ini karena terucap dari Gandhi, kata Billy. Polah Charlie yang gila dan sangar tetapi melankolis juga membumbui film ini dengan baik. Lantas, dimana konsep psikopatnya?

Film ini mengembalikan arti psikopat ke sebenar-benarnya psikopat. Kebanyakan dari kita, termasuk Hollywood yang juga dikritik Marty, psikopat merujuk pada karakter pembunuh yang sadis, berdarah dingin dan tak kenal ampun. Jika merujuk pada faktor-faktor pendukung psikopat maka 4 karakter utama adalah psikopat, plus 3 karakter lain: Pendeta Buddha dari Vietnam, Zachariah dan istrinya. Dari ketujuh psikopat di film, hanya satu yang benar-benar sesuai dengan psikopat ala Hollywood
.
Meski dibuat di Amerika Serikat, inilah film dengan citarasa Inggris, dibuat oleh sutradara Inggris dengan dana dari Inggris. Film ini penuh satire, komikal dan absurd dengan banyak lapisan yang tak terduga. Menontonnya seperti menonton Pulp Fiction, diaduk dengan Lock, Stock and Two Smoking Barrels serta dibumbui sedikit Layer Cake.

*note: Psychopath: is a personality disorder that has been variously described as characterized by shallow emotions (in particular reduced fear), stress tolerance, lacking empathy, coldheartedness, egocentricity, superficial charm, manipulativeness, irresponsibility, impulsivity, criminality, antisocial behaviors such as lacking guilt and living a parasitic lifestyle. (http://en.wikipedia.org/wiki/Psychopathy)

-Kredit foto: http://www.imdb.com/title/tt1931533/-

Saturday, November 24, 2012

What (or Who) was killed the bride?

"@adiwriter Tiap nonton music video November Rain gue selalu bingung : itu on screen wifenya Axl meninggalnya kenapa ya ?"

Pertanyaan sederhana, tapi memang bikin penasaran setelah berkali-kali nonton video klipnya. Saya berfikir mungkin cuma saya yang punya pertanyaan soal ini, eh, ada juga kawan yang punya pertanyaan yang sama. Berhubung november mau habis, mari kita bahas video klip November Rain dari Gun's N Roses ini.

Buat pengingat, nonton dulu deh video klipnya:


Nah, sekarang mari berandai-andai apa, atau siapa, yang telah membuat istrinya Axl meninggal...

Pertama, pengantin wanita memang sudah tidak senang dengan pernikahan ini, meskipun adegan kiss the bride cukup hot disitu. Apa yang menjadikan pengantin wanita terlihat gusar, tak terlihat di video klip ini. Kegusaran si wanita, tampak jelas saat menaiki mobil pengantin. Mungkin, si istri bunuh diri karena tak suka dengan pernikahannya... Mungkin, lho..

Kedua, beberapa kali Slash terlihat dengan shot-shot yang "gusar", termasuk adegan dimana Axl membawa pasangannya bersenang-senang di bar dengan anggota band yang lain. Tapi, tengok shot-nya Slash, terlihat dia gusar dan sering sekali shot-shot ini muncul. Puncaknya adalah Slash tidak mengikuti Pemberkatan Perkawinan di Gereja dan memilih ngloyor  keluar dan menggalau dengan gitarnya. Ini menjadikan Slash tersangka, bahwa dia tidak senang dengan pernikahan itu, dan akhirnya membunuh pengantin perempuan..

Ketiga, tetapi Slash muncul di pesta pernikahan itu. Bisa saja itu modus untuk melakukan pembunuhan. Pengantin wanita dibunuh lewat racun pada wine yang disediakan. Bagaimana identifikasinya? Anggur dalam botol yang tumpah... Kemunculan di pesta juga meminimalisir tuduhan pada Slash..

Keempat, kenapa Slash membunuh pengantin wanita? Hehehe..berandai-andai saja, kalau di sebuah band, urusan perempuan bisa bikin berantem. Boleh jadi, Slash kesal karena takut band-nya jadi rusak. Dan sampai sekarang, Slash-Axl tidak ada rukun-rukunnya...

Kelima, jadi apa, atau siapa, yang membuat pengantin perempuan meninggal? Use Your Illusion..

Kalau mau jawaban benarnya, silakan cari cerpen judulnya "Without You" tulisan Del James.. Kalau punya, saya mau pinjam...

Sunday, September 16, 2012

Sinematografi: Merekam Dengan Hati

"Shot dengan hati jangan pakai otak. Otak taruh di dengkul saja!"

Demikian kira-kira kalau Yadi Sugandi sedang bekerja. Siapa Yadi Sugandi? Beliau adalah salah satu Sinematografer terbaik yang dimiliki industri perfilman Indonesia. Banyak film-film Indonesia yang tergolong apik secara visual ada nama Yadi Sugandi di belakang kredit Penata Fotografi.

Buat saya, film-film Yadi Sugandi itu frame per frame-nya terasa dekat dan intim. Tidak hanya "dekat" karena lensa, tapi benar-benar dekat secara rasa. Penonton bisa dibawa ke dalam cerita, apa yang sedang dialami karakter, respon apa yang sedang terjadi, dan semua terasa akrab dan intim.

Bagi Pak Yadi, panggilan akrabnya, hati dan rasa itu komponen paling penting dalam pengambilan gambar. Teknis bisa menyusul, tapi rasa yang ada di hati kita saat men-shot sebuah frame menjadi tolak ukur bagaimana akhirnya frame tersebut berbicara kepada penontonnya. Rasa dari hati inilah yang menentukan suasana gembira, sedih, dramatis, akrab. Munculnya rasa itu bisa dilatih secara konsisten dan terus menerus, lewat banyak medium. 

Bagi seorang sinematografer dan kameramen (pemula), rasa itu bisa dilatih lewat video-video dokumentasi pernikahan dan kematian. Karena dimulai dari dua peristiwa itulah, ekspresi dan suasana yang sedang dialami manusia bisa terlihat secara jujur. Lewat peristiwa pernikahan dan kematian, kita pahami mana tangis duka, tangis suka, bagaimana kemudian kameramen tahu momen-momen yang bisa menjadi best shot-nya. Video dokumentasi pernikahan dan kematian menjadi sarana Pak Yadi belajar lebih dalam tentang pergerakan kamera, bagaimana kamera kemudian merekam shot-shot yang ekspresif dan dramatis.

Pak Yadi saat sharing pengalaman
Lantas, bagaimana menciptakan frame yang punya kedekatan dan rasa itu? "Saya ikut memainkan karakter yang saya shot dalam film." Jadi, frame-frame dekat dan dramatis selain peran aktor yang baik, juga karena sinematografer yang ikut "berperan" sebagai karakter di film. Jika adegan menari, Pak Yadi akan menari, jika adegan menangis, kadang Pak Yadi ikut menangis.

Di era digital ini, siapapun bisa membuat film, tapi film kemudian memunculkan ke-aku-an pembuatnya. Penyebabnya adalah mulai terkikisnya kolaborasi mendalam antara masing-masing pihak yang terlibat dalam pembuatan film. Kadang, seorang Director of Photography, juga departemen lain hanya berperan sebagai tukang. Bisa jadi ini kritikan serius seorang pelaku industri perfilman Indonesia. Kolaborasi yang sekedarnya melahirkan karya yang sekedarnya pula. Tidak ada kedalaman, tidak ada rasa, dan itu, bagi penggiat audio-visual, akan terlihat di layar (frame).

Seorang sinematografer yang baik dalam sebuah produksi film ibarat istri dalam berumah tangga. Tugas utamanya adalah melayani suami (sutradara), karena idealnya, sinematografer adalah pekerjaan pelayanan, servis. Tetapi, seorang sinematografer harus bisa berperan sebagai kepala keluarga saat posisi sutradara sedang lemah. Dia harus bisa menjembatani keinginan-keinginan sutradara yang tidak tersampaikan.  Disinilah kolaborasi yang baik harus bisa terjalin dan tercipta antar pihak yang terlibat, sehingga ke-aku-an bisa terkikis. Ada diskusi panjang mengenai sebuah film yang akan dibuat jauh-jauh hari sebelum eksekusi, dan itu akan menjadi karya bersama.

Meski sudah pernah menjadi kepala rumah tangga sebagai sutradara di trilogi Merah Putih, Pak Yadi menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi seorang Director of Photography. Dan secara terbuka, beliau mempersilakan siapa saja untuk belajar sinematografi langsung kepadanya.

*tulisan ini adalah kesan dan kesimpulan selama mengikuti Workshop: Camera Works bersama Yadi Sugandi yang diadakan di SAE Institute Jakarta, 15 September 2012*

Cabin In The Woods (2012): Gado-gado Yang Salah Takaran.




5 (lima) anak muda dengan latar perilaku berbeda berlibur ke sebuah kabin di hutan. Sound familiar?

Resep kuno di film horror dan suspense masih jadi daya imajinasi terkuat. 5 (lima) anak muda dengan karakter laki-laki gagah atletis, laki-laki pendiam nan cerdas, laki-laki pemabuk dan penuh fantasi, popular seksi yang ceroboh serta si perawan adalah resep klasik film-film horor. Demikian dengan Cabin In The Woods garapan perdana feature panjang Drew Goddard. Lima anak muda ini, mengendarai sebuah van berlibur ke sebuah kabin di tengah hutan. Yang tidak mereka sadari, mereka akan mengalami serangkaian teror mengerikan. Teror yang datang atas tuntunan dari mereka sendiri. 

Bangunan horor dimulai saat mereka bermain ke lantai dasar kabin. Mereka menemukan banyak barang-barang tua dan antik. Dana (Kristen Connolly) menemukan dan membaca satu buku tua berdebu. Hingga pada akhirnya, ia membangkitkan zombie. 

Satu per satu dari mereka di buru, dan dihabisi. Urutannya pun masih mengikuti pola klasik horor. Namun, ada saja yang selamat, seperti resep-resep film horor lainnya. Dua yang selamat ini akan membuka “permainan” apa yang sedang terjadi dan yang mereka alami. Mereka tak sadar bahwa apa yang terjadi ada “pengendalinya”. Pengendali inilah yang “menentukan” urutan-urutan siapa saja yang harus dihabisi lebih dulu. Sampai disini, Drew Goddard tampaknya ingin menyindir plot klasik film horor.

Sindiran Goddard mungkin tak berakhir disini. “Pengendali” dari AS ini bertanggungjawab terhadap keberlangsungan hidup dunia, setelah “pengendali” di belahan bumi lain gagal memainkan perannya. AS, sekali lagi, jadi sandaran hidup, the last action hero, dimana semua orang berharap padanya.

Sesungguhnya, Cabin In The Wood adalah kumpulan cuplikan horor dan fantasi yang pernah ada. Segala makhluk ada di film ini. Ini bukan film horor yang membuat penonton akan “oh..gini…” atau “ihh..jangan kesituu!!”, melainkan film yang memaksa horror geek mengingat-ingat plot horor yang pernah ditontonnya. Sebagai sebuah film horor-suspense, tak ada ketegangan berarti yang bisa mewakili teror terhadap penonton. Twist yang muncul pun tidak menunjukkan adanya sebab akibat, melainkan kebetulan belaka. Apa yang mau diceritakan, mungkin Goddard lupa takaran bumbu horornya. Hingga akhirnya, Cabin In The Woods bagaikan gado-gado dengan rasa aneka bumbu dapur yang campur aduk.

Dan pada akhirnya, kita tak peduli lagi bagaimana seujug-ujug Curt (Chris Hemsworth) meyakinkan ke-4 temannya yang lain untuk memutuskan berlibur ke kabin milik sepupunya itu… Sepupu dan sejarah kabinnya bagaimana? Au ah gelap…

*kredit foto http://www.imdb.com/title/tt1259521/ *

Sunday, July 15, 2012

Lewat Djam Malam (1954): Revolusionist Yang “Tersesat”

 “Setengah!”

Itu kata Puja (Bambang Hermanto) tentang Laila (Dhalia), seorang pelacur yang punya cita-cita hidup ideal, sambil menyilangkan jari telunjuknya ke dahi. Puja menganggap, mimpi Laila yang utopis tentang hidup ideal adalah cita-cita gila. Padahal, Laila hanya ingin punya laki, keluarga dan anak.

Mimpi yang “utopis” itulah yang sebenarnya juga di alami Iskandar (A.N. Alcaff) setelah ia kembali dari perang. Iskandar gagal beradaptasi dengan dunia di luar gunung-hutan tempat dia berada selama ini. Sebagai “bekas” pejuang, Iskandar punya cita-cita ideal tentang hidup setelah perang dan penghargaan bagi dirinya yang bekas kombatan. Tetapi, dunia paska perang tidaklah seindah yang dibayangkan Iskandar.

Bekas komandannya, Gunawan (Rd. Ismail), menyatakan bahwa perang belum berakhir. Gunawan yang menjadi pengusaha sukses berkukuh bahwa perang secara ekonomi juga sama pentingnya dengan perang revolusioner. Gunawan kemudian menawarkan pekerjaan yang cocok untuk Iskandar: Tukang Pukul. Bagi Iskandar, ini melecehkan harga dirinya, karena dalam mimpinya, paska perang dia bisa bergaul normal dengan sesama manusia tanpa harus bersinggungan dengan kekerasan.

Pada titik ini, Iskandar ”tersesat” di dunia yang sudah berubah. Dia mengungkit sikap Gunawan semasa perang. Iskandar sudah diingatkan rekannya yang lain, Gaffar (Awaluddin) untuk melupakan masa lalu. Toh, bagi Iskandar, Gunawan harus bertanggungjawab atas apa yang ia perintahkan kepada Iskandar dan Puja di masa perang.

Sebagai orang yang datang dari kelas menengah sebelum akhirnya memutuskan ikut terjun bertempur, Iskandar adalah orang yang berpendidikan tinggi. Ia sempat kuliah di ITB. Oleh calon ayah mertuanya, Iskandar dititipkan di kantor gubernur untuk bekerja. Sayang, baru sehari bekerja dia di pecat. Sementara Norma (Netty Herawati) tunangan Iskandar sedang mempersiapkan pesta kepulangan Iskandar, hanya tahu Iskandar bekerja di kantor gubernur.

Yang menarik adalah bagaimana kelas menengah Indonesia di rekam oleh sutradara Usmar Ismail. Pesta-pesta dan dansa-dansi mewarnai kehidupan Norma, dan Adlin kakaknya. Seperti tidak peduli, pesta tetap diadakan meski Iskandar tak berada di rumah..atau lebih tepatnya tidak peduli. Meski demikian, Norma sudah cinta mati kepada Iskandar. Iskandar yang tersesat memutuskan kembali kepada satu-satunya orang yang setia dan tidak setengah-setengah mencintainya, yakni Norma.

Lewat Djam Malam berlatar Bandung di tahun sekitar 1949-1950, dimana berlaku jam malam antara jam 10 malam sampai jam 5 pagi. Patroli militer akan menangkap semua orang yang berada di jalan pada jam-jam tersebut. Tak segan pula patroli menembak pelanggar jam malam.
Usmar Ismail dan Asrul Sani bisa membuat sebuah rekaman jejak hidup Indonesia yang sangat muda. Oleh dua legenda film Indonesia ini digambarkan sejak awal, rekam jejak hidup Indonesia penuh ketidaksempurnaan dan penuh problema sosial-politik dan intrik. Iskandar pun jadi sosok yang mewakili kegelisahan Usmar dan Asrul tentang masa depan Indonesia, yang mungkin sedang menikmati buah kemerdekaan.

Sayangnya, potret kekhawatiran tentang Indonesia di masa depan ini justru kurang mendapat perhatian di rumahnya sendiri. Film Lewat Djam Malam buatan 1954 itu kondisinya rusak berat, dan kemudian direstorasi oleh National Museum of  Singapore dan World Cinema Foundation pimpinan Martin Scorcese, bekerja sama dengan Yayasan Konfiden dan Kineforum. Tanpa usaha mereka, kita mungkin tidak bisa menikmati sebuah mahakarya masa lalu tentang Indonesia.

Inilah film tentang totalitas anak bangsa yang ”Kepada mereka yang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri.”

*credit foto: http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-l014-54-609457_lewat-djam-malam#.UAKHvJF1h6N*